Saturday, December 10, 2011

Sahabat Pergi, Cinta yang Datang, Aku kembali



Saat matahari sudah tinggi,menandakan hari pagi, saatnya untuk beraktifitas kembali,setelah terlelap tidur semalaman pikir lidya saat tengah beranjak dari ranjangnya.
Lidya adalah seorang siswi yang baru lulus SMP dan kini mulai beraktifitas kembali di sekolah yang baru, yaitu SMA, kini ia memulai hari-harinya di sekolah itu. Perasaan senang karna telah lulus dari SMP, namun rasa tak senangnya pada saat ini,ia harus memulai semuanya dengan menjadi junior di sekolah itu. Namun pikirannya terus melayang pada masa depannya,kini ia memilih sekolah favorit di kawasan Jakarta yaitu SMK JAYAWISATA adalah sekolah pariwisata yang popular dikalangan orang  yang gemar pada hal perpariwisataan.
Saat sedang sarapan handphone Lidya berdering, ternyata fika yang menelpone. Fika adalah sahabat Lidya sejak di taman kanak-kanak. “aku udah nunggu kamu di depan” ucap fika,yang ternyata sedang menunggunya di depan rumah Lidya,tak perlu menunggu jawaban apa-apa lagi fika langsung menutup teleponenya.
“bun,aku berangkat ya” ucap Lidya pada bundanya
“iya,hati-hati di jalan nak” jawab sang bunda.

“oke,aku siap,yuk jalan” sambil nyengir lidya tanpa basa-basi memberi aba-aba pada fika,namun tanpa fikir panjang lagi fika langsung menancap gas mobilnya dan menuju SMK JAWIS (julukan untuk sekolah tersebut di kalangan masyarakat luar,juga murid yang bersekolah di sana)

Sesampainya di sekolah mereka langsung memarkir mobil di parkiran. Dan mereka berdua berjalan menuju kelasnya melalui koridor,karna mereka satu kelas,sehingga membuat mereka tak perlu berpisah lagi.
Saat sedang bergurau tak sengaja Fika menabrak sekelompok orang, Fika merasa takut saat tau yang ia tabrak adalah kelompok D’Angel,(geng yang berkuasa di sekolah itu,Dan tidak ada yang berani pada mereka) .
“ma. . ma. .maafkan saya kak,saya gak sengaja” kata fika terbata-bata
“enak saja kamu bilang maaf!!” ucap Rani,ketua dari geng D’Angel
“eh kamu anak kelas 10 kan” tika menimpali perkataan Rani,membuat fika jadi gemetaran.
“lho kak,bukannya teman saya ini sudah minta maaf??” perkataan Lidya membuat Rani menjadi geram.
“oh,kamu temannya?? Saya harap kamu gak usah ikut campur kalau gak mau cari masalah sama kita” jawab fery,yang juga anggota dari D’Angel.
Belum selesai perdebatan mereka, bel tanda masuk sudah di bunyikan  membuat semua orang yang berkumpul memembubarkan diri untuk memasuki ruang kelas masing-masing,termasuk juga geng D’angel,terpaksa mereka beranjak pergi dari Fika juga Lidya,namun sebelum mereka pergi mereka mengatakan “URUSAN KITA BELUM SELESAI” pada keduanya.

Lidya sudah tidak memikirkan hal yang menipannya pagi ini,ia sudah melupakannya, namun berbeda dengan Fika yang masih takut akan ancaman D’angel tadi pagi,sehingga membuatnya tidak konsentrasi pada pelajaran.

Jam istirahat sudah datang, fika merasa malas untuk keluar kelas,
“ka, ayo kita ke kantin, aku laper banget nih” Lidya memohin pada fika agar ia mau menemaninya ke kantin.
“aduh Lid,aku lagi gak laper, dan aku juga males keluar kelas” ucap fika
“ka, kamu itu bukan gak laper, tapi kamuitu takut kan sama orang-orang itu? Ngapain sih kamu takut sama mereka? Udah pokoknya kalau mereka macem-macem sama kamu, aku yang hajar mereka aja” jawab Lidya.
“duh Lidya, ia aku tahu kamu emang jago karate,tapi mereka kan senior di sini.” Fika tetap membantah.
“udah yang penting kita sekarang ke kantin” Lidya menyeret fika, apa boleh buat, fika emang gak bisa apa-apa lagi,karna Lidya emang punya kekuatan yang cukup buat maksa fika mau keluar kelas.

Saat di kantin tampak tak terlihat banyak orang. Fika merasa heran, namun LIdya tampak tak memedulikannya.
Fika iseng bertanya pada ibu kantin “buk,kok kantinnya sepi?”
“lho, adek gak tahu ya, kalau sekarang kan ada pertandingan basket.” Jawab ibu kantin,membuat fika tak mengerti.
“memang apa hubungannya kantin sepi,sama pertandingan basket?” Lidya ikut menimpali.
“kalau ada pertandingan basket, hamper semua murid JAWIS berkumpul di gedung olah raga.
“owh gitu,padahal kan Cuma basket ya Lid? Kok sampek mau-maunya ngumpul desak-desakan di sana” Tanya fika pada Lidya sambil membawa semangkuk bakso dan es the nya.
“kamu Tanya aku, trus aku Tanya saipa?” jawab LIda tak meladeni pertanyaan fika.
“Tanya buk kantin donk, hahahaha” fika menimpali.
“kan di tim basket ada Alex” ibu kantin nyeletuk, membuat fika dan Lidya berhenti makan.
“Alex?????” Fika dan Lidya  bersamaan.
“dia itu cowok terfavorit di JAWIS” jawab ibu kantin
“ciiiiiiieeeeehhhh, ibu tahu cowok juga ya,hahhahahahahahhahahahahaha” kata Lidya membuat guyonan.
“hahaha, si eneng bisa aja,ya tahu lah neng,ibuk juga kan pernah muda” obrolan mereka berhenti saat ada yang datang.
Ibu kantin melayani seseorang yang baru saja datang .

“ boleh duduk disini?” tiba-tiba ucap cowok berpakaian basket pada Lidya dan Fika.
“boleh” jawab Lidya.
Mereka makan bersama, namun tak ada yang saling menegur untuk membuat topic.
Sampai akhirnya Lidya dan fika selesai makan.
“kita dukuan ya..” ucap fika.
“oh iya.”jawabnya.
“eh……………………” cowok itu memanggil Fika dan lidya, namun mereka berdua sudah terlanjur jauh.

Di dalam kelas fika selalu membicarakan cowok yang di kantin itu, ia sudah lupa pada kejadian pagi tadi,”eh lid,cowok akep banget ya?” ucapnya
 Bersemangat.
“kok Cuma gitu sih tanggapanmu?” jawab fika.
“trus mau jawab apa? Aku harus ikut heboh gitu? Ih, sorry ya gak banget deh” kata lidya cuek bebek.
“eh apa jangan-jangan orang itu yang di bilang buk kantin?”
“mana aku tahu…”
“yak an Cuma mau minta pendapatmu aja Lid.”hin kan.
“pendapat aku? Gak penting”
Pembicaraan mereka terhenti saat pak Hadi menegur mereka.
“tuh kan gara-gara kamu sih jadi di marahin kan?” ucap Lidya pada Fika
“tapi emang benerkan dia cakep?”

PLAAAAAKKK……………

aaakkkhhh…..” Fika dan Lidya bersamaan.
“saya sudah katakan, saya sedang menerangkan harap diam” kata guru berkumis tebal itu.

Pelajaran bahasa jepang sudah selesai, murid di kelas X.1 dapat bernafas lega saat pak Hadi meninggalkan kelas.

“eh nanti kita cari tahu tentang kakak itu ya Lid!!” tiba-tiba Fika nyeletuk di belakang Lidya, membuatnya tersentak.
“duh ka, kamu itu bisa gak sih gak ngagetin orang?” jawab Lidya agak emosi.
“lho kok jadi marah gitu sih?”
“ya abisnya kamu ngagetin aku.”
“kenapa kamu kaget?”
“ya, enggak gak kenapa-napa kok. Tiba-tiba aja kamu muncul di belakang, sapa coba yang gak kaget?” terlihat Lidya sepertinya sedikit salah tingkah.
“hayo, kamu mikir apa? Mikirin kakak itu ya?” Fika meledek
“eh ngaco’ kamu.”
“terus kenapa. Kalau bukan mikirin kakak itu?” mendesak
“hah? Kakak? Kakak siapa?”
“itu lho yang tadi ketemu dikantin.” Menjelaskan
“haduh nggak deh, makasih.” Lidya tetap cuek.
“ya udah.”

Tiba-tiba semua teman cewek di kelas fika berhamburan menuju pintu kelas.
Fika yang juga ikut berlari, membuat Lidya dapat menebak apa yang ada di depan kelasnya…..

“waaaaaahhhhhh………..” terdengar suara gemuruh itu di telinga Lidya.
Mendengar itu, Lidya tidak merespon.
“kok diem aja sih?” Fika tetap bersikeras ingin membawa Lidya ke depan pintu kelas.
“hemmm…”
“kok Cuma hemm sih?” membuat Fika tak sabar ingin membawa Lidya ke depan kelasnya.
“emang apa urusannya sama aku?”
“ya ada lah urusannya sama kamu,kan kakak itu nyari kamu.” Jawab Fika.
“ngapain?” Lidya sedikit tersentak.
“aku juga gak tahu, mangkanya, udah ayo keluar kelas.” Paksa Fika.

Di depan kelas cowok itu langsung menjulurkan tangannya kepada Lidya.
Lidya terheran melihat sikap cowok itu.
Karna melamun Lidya tak langsung membalas uluran tangan cowok itu.
“hey??” ucap cowok itu.
Membuat Lidya tersentak.
“oh, ehemmmm, iya” jawab lidya
“salam kenal ya, tadi kan gak sempet kenalan.” Tuturnya lembut
“hah??” membuat Lidya melongo.
“iya tadi kan kita ketemu di kantin tapi gak sempet kenalan.” Jawabnya lagi
“oh gitu” jawab Lidya agak cuek
“aku Alex.” Melepaskan uluran tangannya.
“aku Lidya, udah gak ada yang mau di omongin lagi kan?” tiba-tiba Lidya nyelonong masuk ke dalam kelas lagi, membuatsemua yang ada di sana tercengang, termasuk Alex.
Semuanya pun membubarkan diri, karna ada guru yang datang.
Kecuali Alex.
“why you in here?” Tanya Mrs.sarah pada Alex
“sorry Mrs. I need to Lidya, your student in this class.” Jawab Alex.

“ok, where is Lidya? Please you out.” Tanya Mrs.sarah
Tak menjawab, Lidya langsung menuju keluar kelas.
“Mrs, I want permission” ucap Lidya.
“no problem” jawab Mrs.sarah dengan senyum

Di luar kelas Lidya tampak tak senang dengan kedatangan Alex.
“kok buru-buru masuk kelsa sih?” Tanya Alex
“udah to the point aja.” Jawabnya sinis
“kelihatannya kamu gak senang ya kalau aku di sini?”
“kalau udah gak ada kepetingan mending aku masuk kelas aja,sayang kalau gak ikut mapel Cuma gara-gara ini.” Belum sempat james menjawab,Lidya kembali ke dalam kelas.

Di dalam kelas, Lidya tampak sedikit gelisah. Ia berulang kali menengok ke luar kelas, di sana tampak tak ada tanda-tanda seseorang, pikir Lidya.
Saat itu juga perasaannya menjadi tenang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 waktunya SMA JAWIS untuk pulang.
Semua pulang, tanpa terkecuali. Namun berbeda dengan kelompok D’Angel, yang akan pergi ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Jakarta.
Mereka sering kali menghamburkan uang orang tua mereka, karna mereka menganggap orang tua mereka mampu membeli apa saja, terutama Rani, yang ayahnya bekerja di perpajakan, dan ibunya yang memiliki restaurant di kawasan Jakarta.

“eh aku ntar mau beli hp baru, jadi aku mau ambil uang dulu” ucap Rani pada teman-temannya,
“wah, Ran,aku jadi ngiri sama kamu, kamu selalu ganti-ganti hp,hahahhahaha” jawab Cindy.
“ya dong, kita kan harus mode, gak boleh ketinggalan zaman” Rani berbicara seolah, dia harus jadi yang paling mode di antara semuanya.
“yeah, I know that,” jawab Cindy, seolah tak ingin membuat keributan dengan Rani, karna menurutnya Rani sebagai pemimpin dari mereka, bisa melakukan hal yang buruk sekalipun jika ada yang mengajaknya rebut.
“eh ran, ngomong-ngomong bocah tengil yang tadi pagi, dia siapa ya?” celetuk Tika.
“oh iya ya, anak itu siapa ya?” dengan wajah sedikit sinis, dia seolah sedang memikirkan sesuatu.
“aku tadi liat dia.”jawab Fery.
“ya jelas lah kamu liat anak itu, kan dia junior kita, udah jelas juga dia pasti ada di sekolah, jadi gak usah heran kalau kamu ketemu dia.” Cindy menjelas kan.
“bukan-bukan itumaksud aku, aku tadi liat dia lagi ada di gerombolan orang-orang gitu, dia tadi lagi sama james,gila kan tuh anak, masih baru udah berani dketin Alex.” Gaya Fery seperti ingin memanas-manasi Rani, karna Rani menyukai sosok Alex,
“brengsek tuh bocah, liat aja ntar,apa yang bakal aku lakuin kalau berani deketin Alex.”
Rani yang mulai emosi, ia geram pada Lidya. Menurutnya Lidya akan mendekati Alex.
Alex adalah sosok yang menjadi popular di SMA JAWIS, karnanya ia adalah kapten di tim basket SMA JAWIS,selain itu yang orang tua Alex adalah pemilik Rumah Sakit yang berada di Jakarta. Sedang Ibu Alex pemilik Butique ternama di kalangan para designer besar.karna itu Alex juga memilih jurusan tata boga di SMA JAWIS, selain keahliannya pada basket, ia cocok di katakana sebagi master chef di kalangan siswa yang ada di Jakarta, ia sudah menjuarai banyak lomba yang di selenggarakan, salah satunya lomba yang baru saja di selenggarakan di singapura, ia menjuarai lomba tersebut, mungkin dia mempelajari itu semua dari kakeknya yang menjadi chef di sebuah restaurant elite,
Ia memang patut untuk di acungi jempol, namun satu hal yang membuatnya tak di sukai oleh beberapa guru, terutama guru bk, karna sikapnya yang selalu menggap semua enteng, dan semaunya sendiri, dan terkadang tak mau menghargai orang lain.

Rani kaget dan mulai sadar dari lamunannya, karna mereka semua udah sampai di tempat tujuannya.

“kalian duluan aja, aku sama Cindy mau ke kamar kecil dulu” ucap Rani.
“oke deh” jawab Tika dan Fery.

Di dalam mall, Tika dan Fery langsung menghambur untuk shopping, mereka menuju tempat penjualan kaset dan buku.

“aku mau nyari kaset baru”
“ya udah kamu cari aja,aku sih nggak, aku mau nemenin kamu aja, aku mau beli aksesories aja” jawab Tika.
“ok deh”

Tak lama, Fery dan Tika sudah berbelanja, walaupun tidak bersama Rani dan Cindy, mereka seperti terpencar, dan tidak mencari satu sama lain.
Kemudian,semuanya berkumpul di satu restaurant yang ada di mall tersebut.
Rani berjanji akan mentraktir semuanya.
Saat sedang makan, Rani melihat sosok yang di kenalnya, ia melihat Alex bersama Aldo,dan juga Aris (sahabat karib Alex)
“Lex….” Panggil Rani, ia tampak sangat sumringah melihat ada Alex di san, menurutnya itu merupakan keberuntungannya.

“oh no, guys….” Bisik Alex pada Aldo
“hahhaha, derita lo aja deh” jawab Aldo menjailinya,karna Aldo tahu benar sebenarnya Alex sangat tidak menyukai makhluk seperti Rani.
“kalau aku jadi kamu, udah aku pacarin tuh anak, hahahaha” Aris menimpali.
“oh hai Ran,ngapain kamu di sini?” Tanya Alex, basa-basi
“Cuma jalan-jalan aja kok,” jawab Rani kalem.
“oh, ya udah, aku mau cabut duluan ya.” Sambil meninggalkan Rani yang masih berdiri

“Come in guys…….” Alex yang merangkul kedua temannya, tanda member kode untuk cepat meninggalkan tempat itu.

Sampai di parkiran mall, Alex langsung menaiki mobilnya ingin segera pergi.
“Lex, setahu aku, bukannya kamu sama Rani itu udah temenan dari di sd ya?” tiba-tiba Aris mulai topicnya di dalam mobil
“iya emang, tapisiapa sih yang mau deket-deket sama cewek agresif gitu?” jawabnya
“tapi dia kan cantik,tajir, otaknya juga gak bego-bego amat, trus sebenernya kan kamu banyak di sukai sama cewek-cewek. Ya walau kesannya kamu itu playboy, bukannya kamu belum pernah pacaran satu kali pun?” Tanya Aldo yang penasaran dengan pikiran Alex sekarang ini.
“duh kalian itu banyak Tanya ya, gini aja deh, sekarang kita langsung ke rumah ku aja, di sana aku siapin makanan deh, trus aku certain semuanya kekalian.” Alex menawarkan pada ke-dua sahabatnya
“ok deh kalau kayak gitu” Aldo, juga Aris spontan menjawab  bersamaan.
Selama perjalanan menuju rumah Alex, semuanya bernyanyi-nyanyi, lagu kegemaran mereka, “Gotta find you” mereka sering menyanyikan lagu itu.

Memasuki kawasan perumahan indah, di sanalah Alex tinggal.

“yuk masuk, gak usah sungkan-sungkan, hhahahahaha” mempersilahkan semuanya masuk.
“hahahaha, Lex kalau aku itu gak usah di perlakukan seperti itu. Ok. Hahahaha. Ya nggak Ris??” jawab Aldo, sambil menepuk punggung Aris, yang sudah biasa, dan hamper tiap hari berkunjung ke rumah yang mewah ini.

Di dalam,Alex sudah menyiapkan makanan untuk ke-2 sahabatnya itu.
“Lex, aku mau Tanya sama kamu.” Tiba-tiba Aldo menatap Alex seserius mungkin.
“ok aku mau cerita sesuatu sama kalian” Alex membuka cerita lamanya yang gak satu orang pun tahu tentang hal ini, di halaman belakang Alex memulai semuanya.
“jadi gini, dulu sewaktu aku masih kecil aku punya tetangga, dia itu seorang cewek yang paling berarti di hidup aku, aku sering main bareng sama dia, dulu aku itu kelas 2 sd. Tapi dia masih kelas 1 sd, terus suatu saat, ayahnya di pindah tugas kan ke Batam, waktu itu aku bener-bener ngerasa kehilangan banget, tapi dia janji bakal kembali, dan sampai sekarang aku masih nunggu dia. Dan buat kenang-kenangan, aku ngasih cewek itu kalung yang ada liontinnya, isi liontin itu foto aku sama dia, trus dia juga ngasih Sesutu ke aku, dia ngasih kotak music, yang sampai sekarang pun masih aku simpan,dulu aku juga nganggep dia Cuma sebagai sahabat.”
“nama cewek itu siapa Lex?” Aris bertanya pada Alex.
“namanya Cinta” jawab Alex sambil menerawang masa lalunya.
“terus kamu tahu di mana dia sekarang?” Tanya Aris lagi
“aku gak tahu dimana dia sekarang, tapi yang jelas dia udah janji sama aku, kalau dia bakal balik lagi ke Jakarta,dan dia juga bakal nyari aku.” Jawab Alex bersemangat.
“kamu gak punya nomer teleponnya?” Tanya Aldo
“aku dulu gak pernah kepikiran kesitu.”
“jadi itu sebabnya kamu gak pernah mau pacaran?” Aldo kembali bertanya
“iya” jawab Alex

Setelah lama bercerita tentang masa lalu Alex, mereka semua kembali pada kebiasaannya, setelah puas makan mereka main musik,
Hingga menjelang petang, barulah Aldo dan Aris pulang.

Lidya, sedang duduk sendiri di jendela kamarnya, melihat banyaknya bintang di langit, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Saat sedang asyik memperhatikan bintang, Lidya di panggil oleh bundanya
“Lidya cepat turun dulu nak, kita sarapan.” Ucap bundanya
“iya bun aku turun” jawab Lidya

Ketika di meja makan, Lidya tampak sedikit murung.
“kamu kenapa Lid?” Tanya bundanya merasa ada yang tak sama pada Lidya.
“oh, nggak kok bun aku gak ada apa-apa”jawab Lidya
“kalau kamu ada masalah, lebih baik kamu ceritakan saja.” Ayah Lidya menasihati.
“iya yah.”
“oh ya Lid, kamu masih ingat gak sama tante Rena,sama om Kurnia?” ayah Lidya memulai percakapan di ruang makan.
“oh iyalah yah, aku inget banget, ngomong-ngomong mereka sekarang ada di mana ya yah?” Tanya Lidya tampak antusias.
“besok kamu ikut aja ya,ayah sama bunda, di ajak makan siang di restaurant, karna kita memang baru bertemu kemaren lusa semenjak kepindahan kita ke sini lagi.” Jawab ayahnya.
“anaknnya tante Rena sama Om Kurnia ikut juga gak ya yah?” Tanya Lidya.
“oh Ricard ya?” Ayah Lidya kembali bertanya.
“iya, aku pengen banget ketemu sama Ricard, udah 9 tahun gak pernah ketemu lagi.” Lidya menjelaskan
“ayah juga gak tahu.” Jawab ayahnya.
Lidya tampak sedikit kecewa dengan jawaban ayahnya.

Setelah makan malam, Lidya kembali ke kamarnya.
Di kamarnya, ia tampak memikirkan sesuatu.

Gimana kabar dia ya, apa dia masih inget aku, atu udah lupa?
Mudah mudahan besok, dia ikut juga gak ya?
Pikir Lidya.
Tak lama kemudian, ia tertidur hingga esok harinya ia bangun pagi.
Di sekolah Lidya dan Fika di hadang dengan geng D’Angel.
“aku kemaren kan udah bilang kalau urusn kita belum selesai.”
“tapi kita kan udah minta maaf” jawab Lidya.
“kalian fikir Cuma minta maaf bisa ngembalikan semuanya?” jawab Rani.
“dari pada hrus ngeladenin mk mereka, mending kita langsung ke kelas aja yuk ka.” Lidya yang tak mau berurusan dengan Rani dan teman-temannya, menarik tangan Fika untk menuju kelasnya.
Tiba-tiba Rani langsung menjambak rambut Lidya,dan berkata “ kalian fikir bisa kabur gtu aja?” Rani orang yang sangat berlagak, dan sok berkuasa.
Karna Lidya yang dianggap memiliki postur tidak setinggi Rani,Cindy,Fery,dan Tika yang menjadi anggota dari D’angel.
Namun tanpa di sangka Rani, Lidya langsung meninju wajah Rani, hingga Rani terjatuh, dan di lihat oleh banyak orang yang melewati koridor kelas X.
Tanpa di sangka-sangka ternyata Lidya adalah sang juara karate nasional,dan sudah mendapat mendali dari beberapa Negara.
Cindy yang tercengang meihat itu, langsung menolong Rani, dan meninggalkan Lidya dan Fika, bersama teman-temannya yang lain.

“Lid, nanti kalau mereka ngelapor sama guru gimana?” Tanya Fika yang takut hal ini menjadi masalah.
“udah tenang aja, mereka ga bakal ganggu kita lagi,dan gk bakal berani ngelapor sama guru” jawab Lidya sambil tersenyum puas.
“aku gak mau ikut-ikut pokoknya kalau sampai ada masalah dengan guru” ucap Fika,
Namun Lidya tak menghiraukannya,
sepertinya Lidya saat ini sedang senang sekali. Pikir Fika,namun karna Lidya tak menceritakannya, Fika pun tak mau menanyakannya.

Waktu berlalu sangat cepat,bel pulang sudah berbunyi.
Lidya bergegas pulang.

Sesampainya di rumah, Lidya langsung memilih baju yang sangat pantas untuk dikenakannya saat makan siang nanti.
Kemudian ia memilih gaun merah yang di design oleh bundanya sendiri saat acara ultahnya bulan lalu.
“bun, aku bagus gak pake kayak gini?” Tanya Lidya pada bundanya,yang sangat modis dalam berpakaian dan berdandan.
“kamu cantik Lid pake baju itu, tapi ada yang kurang.” Ucap bundanya.
Lidya mengernnyit kan matanya “apa yang kurang bun?” tanyany.
“cepat kamu duduk di sini” jawab bundanya.

Tak lama, Lidya sudah di dandani oleh bundanya.
Lidya tampak sangat cantik.

Setelah semua siap, semuanya pergi menuju restaurant yang sudah di pesan. Sesampainya di restaurant, orangtua Lidya melambaikan tangan pada seseorang, yang ternyata itu adalah tante Rena dan om Kurni,
Namun Lidya tak melihat sosok yang dia harapkan.
Lidya dan orangtuanya menuju tempat duduk yang sudah disediakan.
“gimana, apa kabar kalian semua?” Tanya tante Rena dengan senyumnya yang manis,
“ kita baik semua.” Jawab Bunda Lidya
“Lho Ricard gak ikut?” Tanya Ayah Lidya.
“oh iya Ricard katanya mau nyusul, dia pasti dating kok.” Jawab Om Kurnia.
“ini Cinta ya?” Tanya tante Rena sambil memegang tangan Lidya.
“iya tante.” Jawab Lidya tampak tersenyum tipis.
“wah kamu sudah besar ya.” Om Kurnia menimpali.
“bukan pa, Cinta ini tambah cantik.” Tante Rena menambahkan.
Semuanya tertawa, merasa senang, namun Lidya hanya tersenyum, ia masih mencari sosok yang ia tunggu-tunggu.
“tante saya mau ijin ke kamar kecil dulu ya.” Ucap Lidya.

Di kamar kecil ia mengeluarkan benda berantai, yaitu kalung yang berliontin.
Dan ia memikirkan, nama kecilnya di sebut kembali oleh orang lama yang baru bertemu lagi saat ini, yaitu Cinta, itu nama panggilannya semasa kecil karena nama kengkap Lidya adalah Cinta Lidya Rosalia.
Kemdian ia memakai kalung yang ia simpan selama ini.

Saat ia kembali ke tempat duduknya, ia kaget dan merasa gugup karena ia melihat sosok orang yang ia harapkan dari tadi, meski baru melihat punggungnya saja, Lidya sudah yakin itu adalah Ricard,orang ia tunggu-tunggu.

Kemudian ia duduk di depan lelaki itu dengan menundukkan wajahnya.
“Cinta?” lelaki itu memanggilnya.
Lidya kemudian melihat wajah lelaki itu.
Lidya terkejut melihat lelaki itu, ternyata lelaki yang ia tunggu selama ini sangat dekat dengannya.
“Alex?” Tanya Lidya.
“kamu Lidya kan?” Alex kembal bertanya pada Lidya.
“jadi kamu adalah Ricard,yang aku kenal dulu?” Tanya Lidya
“iya, dan kamu adalah Cinta yang sudah berani nonjok Rani, ketua dari D’Angel?” jawab Alex.
“tapi kenapa kamu di panggil Alex di sekolah?” Tanya Lidya
“kan nama lengkap ku, Antoni Alexandro Ricardo, trus kamu sendiri, kok gak di panggil Cinta di sekolah? Dan aku selama ini juga gak pernah liat kamu pake kalung itu.” Jawab Alex.
“nama lengkap ku itu Cinta Lidya Rosalia, dan aku gak mau pake kalung ini soalnya, aku mau pake kalung ini kalau aku udah ketemu lagi sama orang yang ngasih ini ke aku.” Jawabnya.
“jadi kalian sudah sering ketemu tapi gak tahu sama wajah satu sama lain?” bunda Lidya memotong pembicaraan mereka,
“iya Bun, ternyata selama ini Ricard itu senior aku di sekolah.” Ucap Lidya sambil tersenyum pada Alex.
“kenapa kalian hanya berdiam di sini?, apa kalian tidak ingin berjalan-jalan keluar, setelah lama kalian tidak bertemu?” ucap Om Kurnia, ayah Alex.
“tentu” jawab Alex dengan menggandeng tangan Lidya.

Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan restaurant untuk berkeliling kota Jakarta, setelah 9 tahun tidak bertemu.
Lalu Alex mengajak Lidya ke suatu tempat yang tidak asing bagi Lidya, namun tempat itu sudah lama sekali tidak di kunjungi olehnya.
“jadi kamu masih ingat tempat ini ya?” Tanya Lidya
“jelas lah, aku masih ingat, asal kamu tahu ya, aku hamper setiap hari pergi kesini, kamu aja yang gak pernah mau datang ke sini, padahal kamu udah balik ke Jakarta, tapi kamu gak nyari aku, iya kan?” jawab Alex.
“enak saja kamu bilang aku gak nyari kamu, asal kamu tahu juga ya, alasan aku mau sekolah di Jawis, itu karna aku tahu kamu juga sekolah di sana, setiap hari aku memperhatikan setiap murid di sana, tapi aku gak nemui yang namanya Ricard, trus mungkin aku fikir kamu sudah pindah sekolah. Terus, waktu aku masih serus sama pencarian aku, Rani,Cindy,Fery, dan Tika, jadi engganggu, dim au nyari masalah sama aku sama Fika, sehari, dua hari, aku biarin, dan ternyata sampai kemarin dia masih juga ganggu aku, untung aja aku udah pengalaman karate.” Ucap Lidya, dan tanpa di sadarinya, Alex sangat memperhatikannya.
“aku belum pernah liat kamu dandan secantik ini di sekolah,kenapa?”
“hah?, huuuuh,Alex kamu dengerin cerita aku gak sih?” Lidya yang jadi salah tingkah, memukuli Alex, hingga Alex kesakitan.
“lho, kamu kok marah? Iya aku dengerin kamu lah, tapi aku liat-liat kamu beda banget sekarng.” Jawab Alex, menggoda Lidya.
“terus kalau aku beda emang kenapa, kamu ngerasa rugi gitu?” Tanya Lidya.
“bukan lah, justru aku ngerasa untung, CInta aku sekarang udah segede ini, trus tambah cantik, tapi kalau makan es krim masih suka belepotan gak ya, hahahahaha” Alex menyodorkan es krim coklat kesukaan Lidya, kemudian semuanya tertawa.

Mereka berdua kemudian duduk dengan melihat pemandangan di bukit yang tak jauh dari kota, dan dapat melihat pemandangan kota dari atas situ, dengan di temani es krim.

Saat sedang asik mengobrol, mereka baru sadar sudah seharian mereka berada di sana, hari mulai gelap, keduanya pulang, dan Alex mengantar kan Lidya pulang.
“besok aku yang jemput kamu ya.” Alex menawarkan diri pada Lidya.
“aku bukannya ingin menolak ajakanmu, tapi aku sudah terlanjur janji pada fika.” Lidya yang tampak gelisah dengan tawaran Alex, Alex pun langsung memutuskan untuk tidak jadi mengajak Lidya.
“oh kalau begitu bukan jadi masalah” jawabnya tenang
“mungkin bisa lain waktu” Lidya pun meninggalkan Alex di depan rumahnya, dan melambaikan tangan.

Tanpa di sangka ternyata dia adalah orang yang tak terduga,bagaimana bisa dunia ini begitu terasa sempit.
Padahal aku sangat tidak menyukai orang yang senang pada kepopuleran, tapi apa mungkin esok hari akan berjalan dengan seperti yang ku harapkan?
Ternyata semua juga berjalan begitu cepat,aku jadi ingat dulu, Alex selalu membantu ku saat aku di kejar anjing tetangga,
Lidya terus menerawang jauh ke masa lalunya.
Hingga ia tertidur………….

*seperti biasa setiap pagi sarapan, dan tak ada kondisi yang membedakan, tapi secara fisik memang tidak ada yang membedakan, yang membedakan hanya pada diri Lidya.
Lidya merasa dirinya sangat baik.
Dan seperti biasa pula Lidya berangkat ke sekolah bersama Fika

Sesampai di sekolah ia berpapasan dengan Alex, nampaknya Lidya merasa lebih canggung, mungkin karena ada Fika.
“ aku mau kamu besok lusa bisa datang ke acara opening gallery sekolah dengan ku” Alex memberi surat undangan cuple
“emmm, iya terimakasih aku pasti datang” kemudian Lidya kembali menyusuri koridor bersama Fika
Saat di dalam kelas Fika langsung mengintrogasi Lidya.
“lho bakannya kemarin kamu justru gak suka ya sama Alex,tapi sekarang kok jadi deket gitu?”
“hahaha,ok aku certain semuanya sama kamu”
Lidya mulai menceritakan semuanya pada Fika, mulai dari masa kecilnya, hingga pertemuannya lagi dengan Alex
“ternyata semua tanpa diduga, orang yang awalnya kamu benci, tapi sekarang justru jadi pangeran kamu, hhahahaa” ujar Fika sembari melepas tawa
“siapa bilang dia bakal jadi pangeran aku?” Lidya yang memasang tampang masam justru Fika meledeknya.

Semua berjalan lancer, tanpa gangguan, pikir Lidya.
Aku harus segera pulang karena ada tugas yang harus segera di selesaikan.
Semsampai di rumah, Lidya langsung menuju kamarnya, dan menyusuri anak tangga.
Tak berapa lama ia keluar sudah berpakaian kaos, dan celana jeans se lutut.
Di meja makan, ia makan dengan biasa saja
Setelah selesai makan Lidya kembali ke kamarnya, mulai membuka computer yang terpasang di kamarnya, lengkap dengan modem yang telah sengaja di sediakan.
Tak terasa hari sudah mulai gelap, Lidya sudah merasa lelah, Lidya berbaring di kasurnya, menatap langit-langit yang putih bersih, dan hanya tertempel bintang-bintang dari kertas gold.
Lidya tertidur dengan buku-buku yang msih berserserakan.

Pagi sudah datang kembali ternyata, dan ini semua terasa lebih cepat.
Setelah seleai sarapan ia bergegas menuju teras rumahnya.
Tiba-tiba saja Lidya merasa sangat berat, dan tidak tahu apa yang terjadi.

Lidya tersadar dari pingsannya. Lidya merasa aneh dengan sekelilingnya.
Tampak lebih putih, dan tapi ia merasa ini bukan  kamarnya yang biasanya.
Bunda Lidya kemudian menghampiri anaknya, di sana pun terlihat ada Fika berdiri di sampingnya
Semua tampak cemas.
Lidya bertanya pada sang bunda,” bun, Lidya kenapa?, kenapa Lidya di sini?” karna saat itu Lidya sudah sadar, ia berada di kamar rumah sakit.
“lebih baik kamu istirahat saja dulu, jangan banyak bergerak karena kesehatanmu belum stabil” ayah Lidya dengan sabar membujuk Lidya tak banyak membuat gerakan

Saat semua sudah tenang, dokter datang dan meminta orang tua Lidya untuk menuju ruang  dokter.
“Orang tua atas nama Lidya bisa menemui saya di ruangan, karena ada yang harus saya bicarakan” bunda Lidya merasa gelisah, namun ia tetap berdoa agar tak akan terjadi ha yang buruk

Di ruangan dokter
“saya harap ibu dan bapak dapat menerima ini semua, dan tabah untuk mendengarnya”
Ucap dokter itu.
“memangnya ada apa dok, anak saya tidak apa-apa kan?” Bunda Lidya meneteskan air matanya, karena takut ada hal yang buruk terjadi pada anaknya.
“anak ibu terkena tumor otak stadium akhir”
Tangis orang tua Lidya tak dapat di pungkiri lagi.
“tapi bukankah selama ini anak saya baik-baik saja dok?”
“mungkin anak ibu yang merasakannya, namun ia bisa saja selama ini diam, dan menahan rasa sakitnya.”dokter itu menjelaskan.
“baiklah kalau begitu saya akan membayar berapapun uangnya, agar anak saya bisa sembuh dok.”
“saya mohon maaf bu, saya saat ini sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi,tapi mungkin besok anak ibu bisa di operasi oleh dokter ahli yang akan datang, dan sekarang kiuta semua hanya bisa menunggu,dan tapi saya juga tidak dapat memastikan keberhasilan dari oprasi tersebut, kemungkinan hanya 40% saja anak ibu bisa melalui oprasi itu dengan selamat”
“ayah Lidya pun mengajak istrinya kembali menuju kamara Lidya

Kemudian semuanya berkumpul di kamar Lidya
Orang tua Lidya merasa berat untuk mengatakan semuanya, namun apa boleh buat, Lidya memang harus mengetahuinya.
Lalu ayah Lidya menceritakan semuanya.
Lidya pun menangis tak bisa berbuat apa-apa.
Fika menangis di sebelah Lidya.

Orang tua Lidya kemudian berpamitan, akan pulang,karena harus mengambil  baju Lidya.

“aku mau kamu jangan bilang ini semua pada Alex” Lidya meminta pada Fika
“tapi kenapa?, bukannya seharusnya kamu harus mengatakannya pada Alex?” Fika tampak tak mengerti dengan ucapan Lidya
“aku Cuma gak mau nanti dia khawatir dengan ini semua” Lidya merasa Alex tak perlu tahu tentang ini semua.
“tapi justru kamu harus merasa lebih kasihan padanya, jika ia tahu tapi semuanya sudah terlambat.” Fika member pengertian pada Lidya.
“bisa, tolong ambilkan kertas juga pena yang ada di atas meja?” Fika menuruti keinginan sahabatnya.
Lidya mulai menuliskan sesuatu pada kertas itu.
Dan kemudian ia meilipatnya.
“tolong jika nanti pada saat acara opening gallery sekolah aku belum bisa datang, berikan ini pada Alex, dan katakana maaf ku buat dia” Lidya meneteskan air matanya lagi,dan Fika jadi merasa iba pada sahabatnya, dan tak bisa lagi berkata apa-apa.
Esok harinya, Fika pergi kesekolah, namun ia tidak pergi dengan Lidya, karena Lidya masih tertidur di kamar rumah sakit.

Saat jam istirahat, Alex menghampiri Fika di kelas.
“dari tadi pagi aku gak ngeliat Lidya, kemana dia?, bukannya kalian sering jalan bersama?”
“dia lagi gak masuk sekolah, katanya, lagi gak enak badan, jadi istirahat”
“tapi dia gak papa kan?, yaudah kalau gitu, salam buat Lidya ya, bye” Alex langsung menghambur keluar kelas Fika
Di saat itu juga Fika merasa bersalah pada Alex, karena sesungguhnya, Lidya saat ini sedang menjalani oprasinya.

Sepulang sekolah, Fika tak menuju ke rumahnya, ia pergi ke rumah sakit, tempat Lidya dirawat.
Sampai di rumah sakit, ia hanya melihat kedua orangtua Lidya yang duduk termenung di kursu depan kamar Lidya.
“tante, bagaimana keadaan Lidya?”
“dia sedang mendapat perawatan dari dokter, karena dokter ahlinya belum datang, mungkin sekitar 15nmenit lagi baru bisa datang.”
“saya di sini juga ikut mendoakan Lidya tante.” Fika merangkul bunda Lidya,merasa sangat khawatir,
Sesaat kemudian, dokter yang di tunggu datang, dan langsung menuju kamar Lidya.
Semuanya tetap menunggu di ruangmtunggu.
Dengan perasaan cemas.
Fika melihat jam di tangannya, sudah menunjukkan pukul 5 sore.
Fika teringat sesuatu.
Opening gallery sudah di mulai, mungkin ini sudah waktunya Alex tahu semuanya.
“tante, saya mau izin dulu yan tante, nanti saya akan kembali lagi” Fika langsung menuju keluar rumah sakit.

Fika sampai di depan gerbang sekolah, yang sudah banyak keramaian.
Di sana juga tampak Alex sedang berdiri.
Tak menunggu lama lagi, fika menghampiri Alex.
“kalau kamu mau tahu apa yang sudah terjadi, cepat baca surat ini” ucap Fika, dan ia langsung pergi.
Tak menunggu lama Alex membaca surat yang di beri Fika.

Alex.
 Maaf sebelumnya,aku Cuma gak mau kamu khawatir sama keadaan aku.
Aku di sini baik-baik aja.
Give your smile for me, kalau ada hal yang gak di inginkan terjadi sama aku.
Aku Cuma mau ngungkapin perasaan aku sama kamu selama ini, kalau aku sebenernya saying kamu.
Dokter bilang aku kena tumor atak, dan mungkin umur aku udah gak panjang,
You’r my inspiration selama ini
Jangan pernah lupain aku.
Dan aku juga minta maaf, gak bisa nemenin kamu di acara opening ini.
Salam manis aku buat kamu.

Lidya “J

Saat setelah mebaca surat itu Alex bergegas menuju Rumah sakit,
Namun saat itu juga ada yang menepuk punggungnya.
Alex menoleh.
“Lidya, kamu ada di sini.” Alex merasa sangat senang, namun ia tampak heran karena melihat Lidya yang berpakaian pasien rumah sakit.
“kamu sehatkan? Apa yang ada di surat ini hanya bohong kan?” Alex melihat Lidya yang pucat.
Lidya hanya terdiam, dan member senyum pada Alex.
“kenapa kamu gak bilang sama aku, kalau kamu sakit, tapi kamu sekarang ada di sini, itu tandanya kamu udah sembuh kan?”
“iya Lex, aku gak papa kok, aku datang ke sini Cuma mau bilang maaf, karna aku telat datang dan gak bisa lama-lama ada di sini, aku harus cepat kembali,dan aku juga mau kamu simpan kalung ini baik-baik ya” Alex menerima semua ucapan Lidya
“apa kamu kabur dari rumah sakit?” ucap Alex.
“tidak, aku tidak kabur, aku Cuma mau memastikan kamu baik-baik di sini”
“aku pasti baik-baik aja, gak ada yang perlu di hawatirkan di sini”
Lidya hanya membalas dengan senyum. “berakhir sudah” ucap Lidya lirih

Saat itu juga, hp Alex berdering.
“sebentar aku angkat telpone dulu ya.”

Ternyata yang menelepone Fika
“ada apa Fik?”
“kenapa kamu gak cepet datang ke sini?” terdengar Fika yang menangis
“memang ada apa?” Alex yang tidak mengerti ucapan Fika
“Lidya pergi, dia udah gak ada untuk selamanya.” Tangis Fika tak dapat di tahan lagi.
“kamu jangan bicara macam-macam, karana Lidya lagi sama aku”
“kamu yang jangan mengigau, Lidya meninggal, karna gagal oprasi,dan sekarang jasadnya ada di depan mata aku.”
Fika langsung menutup teleponenya.

Apa yang terjadi, pikir Alex.
“Lidya, Fika kenapa sih?” saat tengah menengok pada Lidya, Alex tak menemukan sosok yang ia kenal lagi, ia mencari dan memanggil Lidya.

Karena memikirkan kata-kata Fika, Alex menuju rumah sakit, di perjalanan, ia masih tak bisa berfikir, bagaimana bisa Lidya memberi kalung ini, sedangkan fika menlpone da berkata seperti itu.
Apa mungkin ini semua hanya sandiwara.
Alex terus meningkatkan kecepatan mobilnya.

di rumah sakit, Alex melihat seorang yang sangat ia kenal sedang menangis tersedu-sedu.
Orangtua Lidya, dan juga Fika, semua menangis.
Alex memastikan apa yang terjadi, dan masuk ke dalam ruangan,di sana terlihat seseorang yang telah di tutupi semua tubuhnya sehingga tak dapat dilihat wajahnya.
Kemudian Alex membuka,untuk memastikan siapa yang di dalamnya.
“tidak, ini tidak mungkin kan?”
Hanya terdengar isak tangis yang menjadi jawaban atas semua pertanyaan Alex.
Lidya meninggal, dan menjadikan semua kenangan yang tak akan bisa terulang.

Keesokan harinya, semua orang menuju pemakaman Lidya,teman di sekolah, termasuk juga Rani,Cindy,Tika dan Ferry.
Dan terlihat juga Alex dan Fika yang sangat terpukul atas kepergian Lidya.


Kini semua belum berakhir, aku harus bisa terus melanjutkan hidup ini, karena walau bagaimana pun juga, dia tetap ada, dan takkan pernah mati di hati kita semua,
Tetap jalani hidup, walau hati ini tetap sedih atas kepergiannya, namun ku yakin hatinya masih tetap bersama.

            

Wednesday, September 21, 2011

my hystory

dalam sejarah kehidupan memanglah harus berawal dari usaha,tanpa usaha tak akan ada satu orang pun yg mampu meraih segalanya dengan begitu saja,karena allah (tuhan kita) telah merencanakan semua untuk umatnya dengan usaha,saya dapat berkata seperti ini karena saya memang merasakannya hari ini,dan untuk esok.
namun ada juga satu hal yg tak pernah ku lupa,cinta orang tua,guru,sahabat,dan juga teman yg telah ikut mendukung semuanya menjadi seperti ini.
tak ada kata yg mampu membalas semuanya,namun ada satu yg dapat kulakukan untuk mereka semua,yaitu dengan kata yg indah,kata yg indah adalah doa yg tulus,dalam hidup semua selalu di perantarakan mulai dari doa...
karena doa adalah penuntun yg dapat di percaya,sebagai tangan kanan allah(tuhan kita)
terimakasih untuk orang tuaku,sahabatku,orang spesial di sana yg secara tidak langsung telah mendorongku untuk ini semua,juga teman yg mau men-suportku dalam doa kalian.

ku berdoa semoga saat waktunya nanti,aku bisa......
ucapan semua orang yg dekat denganku,pasti akan kudengar,jika itu untuk kebaikanku...

tak tau apa yang dapat aku katakan lagi saat ini.......

"tak ada kata lagi yang dapat ku ucapkan,tapi rasa syukur ku pada allah,orang tua,,guru sahabat. dan orang spesial yang secara tidak langsung ikut mendukung ku,dan teman
doa yang tulus yang dapat membalas semuanya, cinta kasih yang tulus,dan rasa sayang ku juga perasaan yang tak dapat ku utarakan saat ini."


Monday, September 12, 2011

hati yang indah

Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore. Kami tinggal dilantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada para pasien yang ke klinik itu.
Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan wajah yang benar buruk sekali rupanya.
“Lho, dia ini juga hampir cuma setinggi anakku yang berusia 8 tahun,” pikirku ketika aku mengamati tubuh yang bungkuk dan sudah serba keriput ini. Tapi yang mengerikan ialah wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah., hiiiihh…!
Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata, “Selamat malam. Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, dan ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi.”
Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak ada seorangpun tampaknya yang punya kamar.
“Aku rasa mungkin karena wajahku… Saya tahu kelihatannya memang mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi…”
Untuk sesaat aku mulai ragu-ragu, tapi kemudian kata-kata selanjutnya menenteramkan dan meyakinkanku: “Oh aku bisa kok tidur dikursi goyang diluar sini, di beranda samping ini. Toh bisku esok pagi-pagi juga sudah berangkat.”
Aku katakan kepadanya bahwa kami akan mencarikan ranjang buat dia, untuk beristirahat diberanda. Aku masuk kedalam menyelesaikan makan malam. Setelah rampung, aku mengundang pria tua itu, kalau-kalau ia mau ikut makan.
“Wah, terima kasih, tapi saya sudah bawa cukup banyak makanan.” Dan ia menunjukkan sebuah kantung kertas coklat.
Selesai dengan mencuci piring-piring, aku keluar mengobrol dengannya beberapa menit. Tak butuh waktu lama untuk melihat bahwa orang tua ini memiliki sebuah hati yang ter-lampau besar untuk dijejalkan ketubuhnya yang kecil ini.
Dia bercerita ia menangkap ikan untuk menunjang putrinya, kelima anak-anaknya, dan istrinya, yang tanpa daya telah lumpuh selamanya akibat luka ditulang punggung. Ia bercerita itu bukan dengan berkeluh kesah dan mengadu; malah sesungguhnya, setiap kalimat selalu didahului dengan ucapan syukur pada Allah untuk suatu berkat!
Ia berterima kasih bahwa tidak ada rasa sakit yang menyertai penyakitnya, yang rupa-rupanya adalah semacam kanker kulit. Ia bersyukur pada Allah yang memberinya ke-kuatan untuk bisa terus maju dan bertahan.
Saatnya tidur, kami bukakan ranjang-lipat-kain berkemah untuknya dikamar anak-anak. Esoknya waktu aku bangun, seprei dan selimut sudah rapi terlipat dan pria tua itu sudah berada di beranda.
Ia menolak makan pagi, tapi sesaat sebelum ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan meminta suatu bantuan besar, ia berkata, “Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal disini lagi lain kali bila aku harus kembali berobat? Saya sungguh tidak akan merepotkan anda sedikitpun. Saya bisa kok tidur enak dikursi.”
Ia berhenti sejenak dan lalu menambahkan, “Anak-anak anda membuatku begitu merasa kerasan seperti di rumah sendiri. Orang dewasa rasanya terganggu oleh rupa buruknya wajahku, tetapi anak-anak tampaknya tidak terganggu.”
Aku katakan silahkan datang kembali setiap saat.
Ketika ia datang lagi, Ia tiba pagi-pagi jam tujuh lewat sedikit. Sebagai oleh-oleh, ia bawakan seekor Ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang pernah kulihat. Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya tetap bagus dan segar.
Aku tahu bis-nya berangkat jam 4.00 pagi, entah jam berapa ia sudah harus bangun untuk mengerjakan semuanya ini bagi kami. Selama tahun-tahun ia datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa membawakan kami ikan atau kerang oyster atau sayur mayur dari kebunnya. Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan dan oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol, setiap helai tercuci bersih.
Mengetahui bahwa ia harus berjalan sekitar 5 km untuk mengirimkan semua itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya, kiriman-kiriman dia menjadi makin bernilai…
Ketika aku menerima kiriman oleh-oleh itu, sering aku teringat kepada komentar tetangga kami pada hari ia pulang ketika pertama kali datang.
“Ehhh, kau terima dia bermalam ya, orang yang luar biasa jelek menjijikkan mukanya itu? Tadi malam ia kutolak. Waduhh, celaka dehh.., kita kan bakal kehilangan langganan kalau nerima orang macam gitu!”
Oh ya, memang boleh jadi kita kehilangan satu dua tamu. Tapi seandainya mereka sempat mengenalnya, mungkin penyakit mereka bakal jadi akan lebih mudah untuk dipikul. Aku tahu kami sekeluarga akan selalu bersyukur, sempat dan telah mengenalnya; dari dia kami belajar apa artinya menerima yang buruk tanpa mengeluh, dan yang baik dengan bersyukur kepada Allah.
Baru-baru ini aku mengunjungi seorang teman yang punya rumah kaca. Ketika ia menunjukkan tanaman-tanaman bunganya, kami sampai pada satu tanaman krisan (timum) yang paling cantik dari semuanya, lebat penuh tertutup bunga berwarna kuning emas. Tapi aku jadi heran sekali, melihat ia tertanam dalam sebuah ember tua, sudah penyok berkarat pula.
Dalam hati aku berkata, “Kalau ini tanamanku, pastilah sudah akan kutanam didalam bejana terindah yang kumiliki.”
Tapi temanku merubah cara pikirku.
“Ahh, aku sedang kekurangan pot saat itu,” ia coba terangkan, “dan tahu ini bakal cantik sekali, aku pikir tidak apalah sementara aku pakai ember loak ini. Toh cuma buat sebentar saja, sampai aku bisa menanamnya ditaman.”
Ia pastilah terheran-heran sendiri melihat aku tertawa begitu gembira, tapi aku membayangkan kejadian dan skenario seperti itu disurga.
“Hah, yang ini luar biasa bagusnya,” mungkin begitulah kata Allah saat Ia sampai pada jiwa nelayan tua baik itu.
“Ia pastilah tidak akan keberatan memulai dulu didalam badan kecil ini.”
Semua ini sudah lama terjadi, dulu – dan kini, didalam taman Allah, betapa tinggi mestinya berdirinya jiwa manis baik ini.
“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (1 Samuel 16:7b)
Sahabat-sahabat adalah istimewa sekali. Mereka membuatmu tersenyum dan mendorongmu jadi sukses. Mereka meminjamimu sebuah kuping dan berbagi suatu kata pujian.
Buatlah seseorang tersenyum hari ini.

Monday, August 15, 2011

terlambat

Rumah sakit ditempat saya bekerja, biasanya sangat sepi pada bulan Januari. Saya berada di ruang suster jaga di lantai tujuh. Saat itu sudah jam 9 malam. Saya sampirkan sthetoscope melingkari leher saya dan menuju kamar 712, kamar terakhir dari lantai 7. Kamar 712 dimasuki pasien baru bernama Tuan Williams, seorang laki laki yang pendiam dan tidak menceritakan tentang keluarganya.
Pada saat saya memasuki kamar, matanya sepertinya ingin tahu siapa yang datang, tetapi akhirnya sayu ketika mengetahui saya yang memasuki kamar tersebut. Saya tekan stethoscope ke dadanya dan mendengarkannya. Cepat, perlahan, kadang kadang tidak beraturan. Ada indikasi bahwa dia menderita sedikit. Ia menderita serangan jantung beberapa jam yang lalu.
Lalu ia berkata, “Suster, maukah kamu..”, lalu ia terdiam, dan dari kelopak matanya mengalir air mata, saya sentuh tangannya menunggu kelanjutan bicaranya, lalu ia mengusap airmatanya dan berkata, “Maukah engkau menelpon anakku dan memberitahukannya bahwa aku terkena serangan jantung.. saya tinggal sendirian, dan dia adalah satu satunya sanak saudara saya.”
Pernafasannya tiba-tiba saja mencepat, lalu aku naikkan kadar oxigennya menjadi 8 liter permenit.
Lalu saya katakan, “Tentu saja saya akan telpon dia”, sambil memperhatikan mukanya.
Dia menarik sprei, sehingga dia dapat maju, dari air mukanya terpancar rasa penting sekali, dan berkata “Maukah engkau memanggilnya sekarang? Secepat engkau bisa?” Ia bernafas cepat, terlalu cepat.
“Saya akan menelepon dia secepatnya”, kata saya sambil menepuk pundaknya, lalu saya menuju pintu, mematikan lampu, dan ia menutup mata dari wajah yang sudah berusia 50 tahun itu.
Sebelum saya sampai ke pintu bapak itu memanggil saya lagi “Suster, bisakah anda memberikan saya kertas dan pen?”
Lalu saya ambil kertas bekas berwarna kuning, dan pen dari kantong saya, lalu meninggalkan kamar tersebut menuju ruang suster jaga.
Lalu saya mencari berkas Tuan William, dan mendapatkan nomor telpon anak Tuan Williams dari sana lalu saya mulai meneleponnya. Suara yang halus menjawab.
“Janie ini Sue Kidd, suster dari Rumah sakit, Saya menelepon kamu tentang ayah kamu, dia masuk Rumah sakit sore ini karena sedikit serangan jantung dan …”
“Oh tidak!” ia menjerit mengagetkan saya. “Dia tidak dalam keadaan sekarat kan?”
“Sekarang dalam keadaan stabil,” jawab saya. Semua terdiam, dan saya menggigit bibir saya.
“Kau tidak boleh membiarkan dia mati!” katanya. Suaranya begitu sedih, membuat tangan saya gemetar memegang gagang telepon itu.
“Ia dalam penanganan yang paling baik”, jawab saya.
“Tapi kamu tidak mengerti,” jawabnya. “Ayah dan saya tidak pernah bicara. Pada ulang tahun ke 21 saya, kami berkelahi, mengenai pacar saya, lalu saya kabur dari rumah. Saya tidak mau kembali. Beberapa bulan ini saya ingin menemuinya untuk meminta maaf, dan kalimat terakhir yang saya katakan kepadanya adalah aku membencimu!”.
Saya mendengar Janie terisak isak. Saya duduk, mendengarkan dan air mata saya membakar mata saya. Seorang ayah dan anak, masing masing sangat kehilangan, sehingga membuat saya memikirkan ayah saya yang jauh, dan sudah lama rasanya saya tidak mengatakan aku sayang Papa.
Ketika Janie berusaha mengendalikan tangisnya, saya dalam hati berdoa, “Tuhan biarkan anak ini menemukan pengampunan.”
“Saya datang dalam 30 menit,” katanya dan klik! Sambungan telepon terputus.
Saya berusaha menyibukkan diri dengan merapikan kembali file file di meja, tetapi saya tidak bisa ber konsentrasi. Kamar 712! Ya saya tahu saya harus kembali ke kamar 712!
Saya setengah berlari kekamar 712 dan secepatnya membuka pintu. Tuan Williams terbaring tidak bergerak, dan saya mengecek denyut nadinya. Tidak ada!
“Kode 99, kamar 712. Kode 99. Stat.”, pemberitahuan tersebut terdengar di seluruh rumah sakit dalam sekejab, sesudah saya laporkan ke Dokter jaga.
Tuan William terkena serangan jantung! Dengan secepatnya saya membuat nafas buatan dua kali, lalu menaruh tangan saya di jantungnya dan mulai memompa dadanya. Saya menghitung Satu, Dua,Tiga. Pada hitungan ke 15 saya kembali membuat nafas buatan. Kemanakah bantuan Dokter? Lalu saya lakukan kembali memompa jantungnya. Saya berkata Oh Tuhan jangan biarkan orang ini mati anaknya sedang dalam perjalanan, dan jangan biarkan berakhir seperti ini.
Pintu kamar terbuka lebar, Dokter dan suster lainnya masuk, dan mendorong alat alat bantu. Dokter langsung mengambil alih memompa jantung.
Saya berkata, “Tuhan, jangan biarkan berakhir seperti ini, jangan dalam keadaan kepahitan dan kebencian. Anaknya dalam perjalanan, dan biarkan dia mendapatkan kedamaian.”
“Mundur” teriak seorang dokter.
Saya menyerahkan kepadanya pengejut lisrik, lalu ia taruh di dada tuan Williams beberapa kali kami lakukan, tetapi tidak berhasil, Tuan Williams sudah meninggal.
Suster yang lain mencopotkan selang oksigen, dan alat alat dari tubuh Tuan Williams, kemudian satu persatu meninggalkan ruangan tersebut, hanya tinggal saya sendiri sambil bergumam, “Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana? Bagaimana saya menghadapi anaknya?”
Ketika saya keluar dari kamar tersebut, saya melihat seseorang berdiri di dekat air mancur, dokter yang tadi berada dikamar 712 berdiri disampingnya, berbicara dengannya sambil memegang bahunya. Lalu dokter itu pergi, meninggalkannya. Dan saya menduga bahwa orang tersebut adalah Janie. Janie langsung menyandarkan badannya ke dinding. Rasa terpukul terlihat dari wajahnya. Dokter telah memberitahukan bahwa ayahnya telah pergi.
Saya menggandeng tangannya dan membawanya ke ruangan suster. Kami duduk di bangku hijau tanpa berkata apa-apa. Ia menatap tajam kalender, dengan tatapan kosong.
“Janie, maafkan saya”
Lalu Janie menjawab, “Saya tidak pernah membencinya, kamu tahu, saya mencintainya”.
Dalam hati saya berkata “Tuhan tolong Janie”
Tiba tiba Janie berkata, “Saya mau melihat ayah saya”.
Dalam pikiran saya mengatakan Mengapa engkau ingin menambah kepedihan? Melihat ayahnya hanya akan menambah kesedihan. Saya berdiri, dan merangkulnya, lalu kami berjalan perlahan lahan menuju pintu kamar 712. Sebelum masuk kamar, saya memegang tangan Janie sedikit keras, berharap agar Janie akan berubah pikiran. Janie membuka pintu kamar, dan kami menuju ke arah tempat tidur. Janie duduk dipinggir tempat tidur, dan membenamkan mukanya ke seprai. Saya berusaha untuk tidak melihat Janie pada saat seperti ini, sedih, sedih ditinggalkan seseorang dicintainya, yang telah lama tidak bertemu.
Saya bersandar ke meja disamping tempat tidur, dan tangan saya menyentuh ke sepotong kertas kuning, saya ambil dan membacanya:
Janie ku sayang,
Aku memaafkanmu. Aku berdoa agar engkau juga Memaafkanku. Aku tahu engkau mencintaiku. Aku mencintai engkau juga.
Ayah.
Kertas itu membuat tangan saya bergetar ketika saya menyerahkannya kepada Janie. Janie membacanya sekali, kemudian dua kali, wajahnya perlahan-lahan bersinar, kedamaian mulai terpancar dari matanya.
Kemudian ia memeluk kertas tersebut.
Kataku “Terima kasih Tuhan” sambil melihat ke arah jendela.
Beberapa bintang terlihat bersinar di kegelapan malam. Butiran salju jatuh dijendela dan mencair, pergi selamanya. Kehidupan terlihat sama rapuhnya seperti butiran salju. Terima kasih Tuhan, bahwa Hubungan seringkali dapat rapuh seperti butiran salju, tetapi dapat diperbaiki kembali, walaupun tidak ada waktu yang indah yang dialami bersama. Saya bergegas keluar dari kamar, dan menuju telepon. Saya ingin menelepon ayah saya, dan mengatakan “Saya mencintai engkau”
 
 

Tuesday, August 9, 2011

kupu-kupu

When Love touch you, no one will harm you!
Dalam Kehidupan ini, ada hal-hal yang Layak untuk diperjuangkan & dipertahankan. Dalam kisah nyata ini, anda akan mengerti bagaimana memperjuangkan hal-hal itu.
Ketika berjalan kaki menyusuri sebuah jalur kecil di samping pepohonan, saya melihat sebuah genangan air di depan saya. Saya mengambil keputusan untuk mengitarinya pada bagian yang tidak becek. Sewaktu saya menghampiri genangan itu, tiba-tiba saya diserang !!!
Saya tak menghindar karena serangan itu begitu tiba-tiba dan datang dari sumber yang sangat tak terduga. Saya terkejut namun tidak terluka sekalipun sudah diserang empat atau lima kali. Saya mundur selangkah dan penyerang saya berhenti menyerang. Penyerang itu melayang di udara; dia adalah seekor kupu-kupu dengan sayapnya yang indah. Andai saya terlukapun saya tak akan menganggap kejadian itu menakjubkan. Tentu saja saya tidak terluka, dan saya tertawa melihatnya. Seekor kupu-­kupu menyerang saya??? hahahaha betapa lucunya, kupu2 kecil itu menyerang saya
Setelah berhenti tertawa, saya melangkah maju lagi. Kupu2 penyerang kembali menyerang saya. Ia menabrakkan dirinya pada dada saya, menyerang saya berkali-kali dengan segenap kekuatannya, berusaha mendorong saya. Untuk kedua kalinya, saya mundur selangkah sementara kupu-kupu itu berhenti. Lalu saya maju lagi, dan dia pun kembali menyerang. Saya diserang pada dada saya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan kecuali mundur lagi. Lagipula, tidak setiap hari saya bisa mengalah bertarung dengan seekor kupu2.
Kali ini, saya  mundur beberapa langkah ke arah lain untuk melihat mengapa kupu2 itu menyerang saya. Dia terbang merendah & kemudian mendarat di tanah kering di samping genangan air tadi. Saat itulah saya menyadari mengapa dia tadi menyerang saya. Kupu2 itu mendarat dekat seekor kupu2 lain yg kemungkinan adalah pasangannya, dan pasangannya itu sedang sekarat & hampir mati. Berdiam di dekat pasangannya, kupu2 penyerang itu membuka & menutup sayapnya seolah2 untuk mengipasinya. Saya hanya dapat mengagumi kasih dan keberanian kupu2 itu untuk menjaga pasangannya. Kupu2 itu berani menyerang saya demi hidup pasangannya, sekalipun sudah jelas bahwa pasangannya sebentar lagi akan mati & saya begitu besar untuk dihadapi. Dia lakukan hal itu agar pasangannya mendapatkan sedikit perpanjangan waktu untuk hidup, karena jika tidak saya pasti sudah akan menginjaknya tadi. Sekarang saya tahu untuk siapa dan mengapa ia bertaruh nyawa seperti itu.
Cuma ada satu pilihan bagi saya. Perlahan-lahan saya mengambil jalur yang lain, sekalipun jalur itu sangat becek dan berlumpur. Keberanian kupu-kupu itu untuk menyerang saya yang ribuan kali lebih besar dan lebih berat dari dirinya sendiri demi keamanan pasangannya telah menggugah hati saya. Saya tidak dapat melakukan hal yang lain kecuali memilih jalan yang kotor dan membiarkan kupu-kupu itu menemani pasangannya yang tengah sekarat. Dia layak untuk menghabiskan waktu-waktu terakhir bersama pasangannya tanpa diganggu oleh saya. Setelah meninggalkan mereka, saya membersihkan sepatu saya yang kotor dan segera menuju ke mobil.
Sejak saat itu, saya selalu berusaha untuk mengingat keberanian kupu-­kupu itu setiap kali saya melihat masalah menghalangi saya. Saya menggunakan keberanian kupu2 itu sebagai inspirasi untuk mengingatkan saya bahwa hal-hal yg baik patut utk diperjuangkan sekuat tenaga. Sejak itu pula, saya lebih mencintai istri & anak2 saya.

Monday, August 8, 2011

i'm a big girl

Saya adalah anak bungsu. Ayah saya adalah seorang pekerja tambang. Rambutnya sudah putih semua, tapi tubuhnya masih terlihat kuat & gagah. Hatinya lembut & sayang keluarga. Hampir tiap pagi jika tidak sedang tugas, dia selalu mengantar saya sekolah. Kami selalu berangkat dengan motor bututnya, motor kebanggaan yang selalu dicucinya tiap hari. Motor itu begitu bututnya, sampai kadang bunyi kelontangan saat berjalan. Karena itu kadang saya malu & pengen agar tubuh saya menciut & menghilang saja kala motor ayah saya masuk halaman sekolah.
Jarak rumah ke ­sekolah sekitar satu jam. Dia sering memakaikan jaket tebal agar saya tidak kedinginan diterpa angin pagi. Dan setibanya di-depan pagar sekolah dia selalu menurunkan saya & menciumi pipi saya berkali2. Namun setelah beranjak remaja, saya mulai risih kala ayah mencium pipi saya. Apalagi di depan teman2. Saya kan udah umur 12 tahun? masak diciumin terus seperti anak balita aja? Sebel banget deh. Maka saya putuskan bahwa saya bukan anak kecil & tidak butuh kecupan di pipi lagi.
Suatu hari, seperti biasa, ayah saya mengantar sampai di depan gerbang sekolah, menurunkan saya, tersenyum lebar dengan senyum khasnya & memiringkan badannya hendak mencium pipi saya. Tapi saya segera mengangkat tangan & berkata, “Jangan ayah, aku malu!” itu pertama kalinya saya berkata begitu & wajah ayah tampak begitu keheranan. Dengan sebal saya berkata “Yah, aku kan sudah besar & sudah terlalu tua untuk dicium2 kayak anak balita.”
Ayah memandang saya beberapa saat, rasanya begitu lama ia memandang & matanya mulai sedikit berkaca2 & basah. Namun aku lihat dia berusaha menahan diri. “OK deh, kamu sudah gadis remaja sekarang. Ayah tak perlu menciummu lagi.” dia berbalik menuju motor bututnya & melambaikan tangannya pamit pergi. Tak lama sesudah itu, ia ditugaskan ke-Aceh & ia hilang & tak pernah kembali lagi. 26 Des 2004 badai Tsunami meluluhlantakkan Meulaboh-Aceh & menghancurkan pos tambang tempat dimana ayah saya ditugaskan.
Anda semua takkan bisa bayangkan apa yang akan saya korbankan sekedar untuk mendapatkan lagi ciuman sayang darinya. Untuk merasakan wajah tua & kumisnya yang kasar. Mencium bau tubuhnya yang khas. Dan untuk merasakan lengannya yang kuat merangkul pundakku, mengacak2 rambutku atau menggendong badanku. Seandainya bisa, aku ingin ucapkan padanya ‘Ayah, aku sudah dewasa, tapi aku tak pernah terlalu tua utk mendapat ciuman darimu…I’m a big girl dad, but i never too old for your kiss”

jangan jadi gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung. “Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya. “Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.” Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.” Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin. “Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru. “Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis. Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.” Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.
“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”
“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya. “Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?” “Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air danmeminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”
Si murid terdiam, mendengarkan. “Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”